Ini Cerita Pertamaku Mondok di Pomosda


"Mbak, aku kangen mamaaa. Tiap kali aku ingat rumah, aku pastiii nangis..."

Cuup cupp, elusku menenangkannya. .

Kali ini tampak matanya berkaca-kaca. Hitungan 3 detik, tangisnyapun pecah. Segera kurangkul, lalu dengan tersedu-sedu ia bercerita. 

Ini adalah pengalaman pertamanya berpisah jauh dari orang tua. Bertemu dengan teman-teman baru dan berada di tempat yang sangat asing baginya. 

Keputusannya bulat untuk bersekolah di Pomosda (Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa). Sungguh pun diawal ini rasanya berat, ia selalu ingat kata mamanya untuk selalu tegar. "Fifi harus kuat ya nak" ucapnya meniru nasihat mamanya.

Aku sendiri pun sempat haru dan bahagia. Di luar sana banyak anak yang tak seberuntung Fifi. Saat ini dia berada di lingkungan yang benar. Sekolah ini juga lah yang telah mendidikku menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun nyatanya aku masih harus terus belajar.

Semua berkat Bapak Kiai Tanjung, yang punya visi jauh kedepan mengkader generasi masa depan. Generasi Al-arif Billah, yang sepemahamanku generasi yang mengetahui siapa jati dirinya dan siapa diri Tuhannya. 

Itulah mengapa sekolah ini berbeda dari yang lain. Dan aku sangat berterima kasih kepada seluruh ustad ustazah disini, mereka yang menggembleng aku selama 3 tahun. Telah dengan tulus ikhlas nderek, nyengkuyung, membela, cita-cita Gurunya (Bapak Kiai Tanjung), utamanya di bidang pendidikan.

Dengannya aku belajar banyak hal. Bagaimana akhlak kepada teman, kepada orang yang lebih tua, dan adab kepada Guru. Secara kognisipun mereka membimbingku dengan telaten.

Alhamdulillaah aku juga pernah ikut olimpiade fisika tingkat SMA se-Nganjuk. Bagaimanapun juga aku tetap masih harus belajar dan terus belajar. Yang kata ustadku almarhum ustad. Purnomo, long life education. Belajarlah sepanjang hayat.

Teringat 7 tahun yang lalu, tepat saat aku lulus tsanawiyah. Kedua orangtuaku sangat berharap putra putrinya bisa mendapatkan pendidikan di pesantren. Tak lain menginginkan kami jadi anak Sholeh dan Sholehah. 

Dan aku memutuskan untuk mengambil alih harapan itu. Kini akulah yang menginginkan jadi anak yang Sholehah, asyiikk😂

Dulu entah apa yang membuat pikiranku bisa berubah, hingga aku setuju untuk memilih mondok. Padahal waktu itu udah mengincar SMA impian loh di kabupaten Bengkalis, provinsi Riau. Hehee,,

Ya,,itu keputusan besar pertama yang telah aku buat.

Dan sekarang duduk di hadapanku, gadis manis nan amat lugu mencurahkan perasaannya tanpa ragu. Sore yang baik, ini kali pertamaku meluangkan waktu jadi kakak yang baik untuknya.
Dari kiri: Anggita, Fifi, dan Wulan

Tantangan ini hampir semua dirasakan oleh santri baru di Pomosda. Seberapa besar mental yang disiapkan bergantung pada diri masing-masing anak. 

Kegiatan yang penuh dalam sehari kadang membuat mereka stress dan ngantuk. Akibatnya banyak yang belum betah, nangis, dan rindu suasana rumah yang nyaman.

Keluar dari zona nyaman

Tak jarang orang tua yang memanjakan anaknya selama di rumah. Membiarkan mereka bergelut dengan gadget tanpa pengawasan. Dibiarkan bergaul di lingkungan yang berbahaya. Belum lagi kurangnya perhatian orang tua karena sibuk dengan urusan kerja. Itu adalah sekelumit masalah yang pernah ku amati diam-diam.

Zona nyaman membuat si anak terlena dan kaget saat harus keluar dari zona itu. Tapi itu tidak mengapa, semua bisa di set ulang. Kalau di otak kita, itu hanya butuh pembiasaan. Iya, kita harus membiasakan sesuatu yang baru dan mungkin yang tidak mengenakkan sekali di awal.

Untung saat menulis ini aku sedang membaca bukunya Pak Charles Duhigg. Seorang reporter Investigasi New York Times, yang menulis untuk surat kabar dan majalah. Dia membuat buku dari hasil penelitiannya yang berjudul The Power of Habit. Betapa dahsyatnya kebiasaan, mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan dalam hidup.

Benar-benar mampu memberikan harapan bagi jiwa yang redup. Siapapun bisa menjadi apa yang diinginkannya. Hanya saja butuh pembiasaan untuk mewujudkan itu.

Sama halnya dengan Fifi. Dia merantau jauh dari Tasik, Jawa Barat, dan melanjutkan jenjang pendidikannya di SMA Pomosda, Nganjuk, Jawa timur. Dari segi apapun kebiasaannya akan terasa berubah. Semula di rumah bisa bangun pukul berapapun, kini ia harus mengikuti aturan dengan bangun lebih awal, pukul 4 pagi. Lalu mengantri mandi, sholat subuh berjamaah, piket kebersihan lingkungan, lalu ganti baju seragam sekolah, sarapan, dan masuk ke kelas. Haduh, membayangkannya saja sudah capek.

Ajaibnya, pola itu lama-lama menjadi kebiasaan pada diri santri di Pomosda. Awalnya tampak mustahil untuk mengikuti kegiatan yang se-padat itu. Belum lagi dijejali materi pelajaran di sekolah yang menuntut konsentrasi tinggi. Ada juga hapalan surah-surah pada jus 30. Tampaknya berat dan mengekang. Oh tidaaakkkk

Tapi yang aku dan teman-temanku rasakan saat dulu, kami mulai enjoy ketika sudah naik kelas 2 atau 3. Jadi intinya kebiasaan itu tidak bisa dibangun dalam hitungan menit ataupun hari. Bisa berbulan-bulan atau bahkan tahun. 

Ternyata otak tidak mengenal ini kebiasaan baik atau buruk. Kalau kebiasaan itu baik, maka akan berpengaruh juga dengan keputusan kita mengambil kegiatan. Otak akan cenderung memilih pada hal positif pula.

Begitupun sebaliknya. Jika kita punya kebiasaan buruk, maka kecenderungan kita adalah melakukan hal-hal yang negatif. Itu yang aku baca dari bukunya Pak Charles. 

Jadi, selamat untuk para wali santri yang menyekolahkan putra putrinya di Pomosda. 

Nantikan terus ceritaku di blog ini yaa😊
Yang akan update setiap Senin.

4 comments:

  1. Assyik bacanya,,, teringat 7 tahun yg lalu saat berpisah dg anak utk mondok di pomosda...

    ReplyDelete
  2. Dalam hidup ku cuma pomosda yang ku cintai, dlu 2 tahun yang lalu aku harus terpisan dari adek adek kelas ku
    Semoga adek adek aku semangat dan nyaman di pomosda

    ReplyDelete
  3. Menarik sekali ulasannya. Bagusnya, anak baru tidak merasa sendirian karena ada kakak2 baik hati yang dengan senang hati mendampingi dan menenangkan. Sekali kali diintip adek Dhimas ya mbak Aul. Hehehe...

    ReplyDelete
  4. hmm.. jadi inget jaman di POMOSDA dulu, pernah merasakan kangen luar biasa dan sempat menangis (di dalam hati)sekali itu. tapi beruntung segera menemukan orang-orang yang sudah seperti keluarga sendiri. Teman datang, Homesick Hilang... wkwk

    semangat menulis kak, biar aku bisa sering baca-baca blog ini.

    ReplyDelete

INSTAGRAM FEED

@auliya_zahrul